< Viral & Beredar Vidio Bupati Cilacap Berjoget Mengundang Kontroversi - Benteng Indonesia News -->

Breaking News

Viral & Beredar Vidio Bupati Cilacap Berjoget Mengundang Kontroversi

<


Cilacap-Jateng,- bentengindonesia.com
Video viral beredar di media sosial (Medsos) Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamudji berjoget ria di sebuah acara di Wahana wisata Taman Sari Rasa Sampang, Minggu (26/07) ) menuai kontroversi. Pasalnya, saat ini Indonesia pada umumnya dan Cilacap khususnya sedang di landa wabah pandemi Covid-19.

Banyak kritikan dari Netizen dan para pekerja seni serta Event Organizer di bidang hiburan, karena dalam video yang diunggah Bupati tidak menggunakan masker dan tidak melakukan physical distancing, Jaga jarak serta bergerombol. Video yang viral sempat beredar juga mendapat kritikan dari salah seorang aktivis perempuan Pekerja Migran Indonesia (PMI), Migran asal Cilacap di Hongkong.

Melalui akun Facebook miliknya, Sri Martuti alias Judy houyai Judy houyai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hongkong asal Kelurahan Sidanegara Kecamatan Cilacap Tengah Kabupaten Cilacap melayangkan surat terbuka kepada Bupati Cilacap, Senin (26/07).

Dalam isi surat tersebut bahwa, mereka para buruh Migran yang berada di Hongkong merasa kecewa lantaran di tengah masa pandemi Covid-19 ini, seorang pemimpin masih bisa berjoget-joget tanpa mengindahkan untuk menerapkan protokol kesehatan.

"Penyesalan yang amat mendalam atas gagalnya bapak dalam menjunjung tinggi nilai-nilai asih, asah dan asuh juga ucapan bela sungkawa atas matinya rasa simpati dan empati Bapak terhadap bencana nasional Covid 19," katanya dalam surat terbuka tersebut.


Lanjut surat bahwa, Bapak yang terhormat,saya ingin mengomentari video bapak yang saat ini sedang viral di Media Sosial terkait perbuatan bapak yang begitu bahagia berjoget dangdut bersama biduan di tengah-tengah aturan PSBB dalam rangka mencegah penyebaran Covid-19 di Kabupaten Cilacap.

"Saya yang memang hanya seorang TKI, namun apa yang bapak pertontonkan itu saya lihat amat sangat tidak pantas dan tidak layak dipertunjukkan oleh seorang Kepala Daerah, yang secara eksekutif adalah puncak pimpinan dari sebuah wilayah yang memiliki daerah terluas di Jawa Tengah, yang tentu saja memiliki rakyat yang begitu banyak yang tersebar dimana mana, baik di dalam wilayah Cilacap maupun seperti saya dan teman-teman TKI lainnya, dimana bapak adalah tuntunan kami, orang tua kami, yang mana segala tindak tanduk bapak akan kami tiru dan akan kami jadikan panutan," lanjutnya.

Saya begitu shock ketika melihat tayangan yang memiliki durasi memang tak panjang itu, tetapi cukup menohok rasa kemanusiaan juga rasa kesantunan terlebih di tengah-tengah bencana wabah Covid -19 seperti saat ini.

Lebih lanjut dalam surat terbuka dikatakan, baik di Indonesia atau negara manapun setiap individu diwajibkan untuk bisa memproteksi diri sendiri dengan menggunakan masker dan sering-sering mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir.

Selain itu, lanjutnya pemerintah juga mengeluarkan kebijakan berupa aturan untuk menjaga jarak, social distancing, PSBB, menghindari kerumunan massa dan menghindari segala bentuk kegiatan yang memungkinkan terjadinya kontak dengan banyak orang. Bahkan pemerintah telah menerapkan kebijakan untuk diam dirumah, belajar dirumah bagi para siswa dan bekerja dirumah.


"Tahukah bapak, bahwa dengan semua kebijakan tersebut, kami rakyat bawah ini adalah telah menjadi korban atas situasi dan keadaan ini. Kami rakyat jelata yang tak akan bisa hidup dan tak bisa makan apabila kami tidak keluar rumah untuk bekerja," imbuhnya.

Dia melanjutkan, hal yang sangat ironis sekali dengan bapak dan juga para pejabat lainnya yang akan tetap ngebul asap di dapur meski harus diam dan bekerja dari rumah.

"Tetapi bapak, karena kami adalah WNI yang baik, yang patuh pada semua aturan dan kebijakan pemerintah yang memiliki nilai dan rasa kesadaran yang tinggi, Kami patuh bapak," tegasnya dalam surat.

Tak peduli perut kami kelaparan, tak peduli anak-anak kami berteriak minta makan, tak peduli anak-anak kami kesulitan belajar dengan sistem daring, kami tetap patuh bapak, Akan tetapi, melihat aksi bapak kemarin, hati kami merasa tersakiti, jiwa kami memberontak, siapa yang harus kami ikuti dan turuti kebijakannya, Siapa yang harus kami bela dan kami hargai," lanjutnya.

"Kami memang hanya rakyat kecil, rakyat yang mungkin memang tak pernah ada dalam bayangan bapak tentang nasib dan masa depan kami, tapi kami ini nyata, kami ada," tandasnya melalui surat.

Jangan biarkan kami mati hanya karena ego dan tindakan ceroboh bapak, jangan biarkan semua peraturan dan kebijakan yang bapak buat justru bapak langgar sendiri. Jangan biarkan setiap kebijakan dan peraturan itu dibuat memang untuk dilanggar," harapnya.

Ajari kami untuk tetap menjadi warga yang baik, ajari kami untuk tetap menjadi rakyat yang memiliki nilai etika tinggi karena menghargai pimpinannya. Ajari kami untuk tetap menjadi masyarakat yang memiliki akhlak yang mulia karena memuliakan rasa simpati, empati, toleransi dan solidaritas," pungkas pengirim surat terbuka.

Menanggapi banyaknya komentar yang kontra terkait video Bupati yang beredar viral di medsos, Bupati mengatakan, bahwa disana ada anggota Satpol PP, Polisi, dan Tentara, mereka bisa mengawasi begitu banyak orang. Ini simulasi. Seperti juga TNI, Polisi, Satpol PP, juga simulasi. Hanya dampaknya itu yang viral. 

"Seperti ada pengeboman, itu polisi juga simulasi, jangan dipelintir. Di situ lho. Saya bertanggung jawab. Dan saya tegasan itu adalah simulasi," pungkas Bupati.

(Tun.D/red)

Tidak ada komentar

<